tempatku tugas

tempatku tugas
Puskesmas Curug kota serang

Kamis, 23 Februari 2012

Evalusi Kinerja Bidan Desa



"Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu"
Upaya   promosi   kesehatan   merupakan tanggungjawab kita bersama, bahkan bukan  sektor kesehatan semata, melainkan juga lintas sektor, masyarakat dan dunia usaha. Promosi kesehatan perlu didukung oleh semua pihak yang berkepentingan.

Bertolak dari hal tersebut, dapatlah kita simpulkan bahwasanya betapa pentingnya dan mulianya tugas bidan di desa yang dapat mengemban amanah melakukan promosi kesehatan pada masyarakat.


Tetapi Bidan di desa lebih utama wajib melakukan, karena menyangkut tugas pokok sebagai bidan pembina desa, seperti yang tertuang dalam  buku pedoman Bidan tingkat Desa, Bidan Desa  mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut :  
1.  Mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI)
2.  Untuk meningkatkan cakupan dan pemerataan jangkauan pelayanan kesehatan ibu hamil, pertolongan persalinan, perawatan nifas, kesehatan bayi dan anak balita serta pelayanan dan konseling pemakaian kontrasepsi serta keluarga berencana melalui upaya  strategis antara lain melalui Posyandu dan Polindes.
3.  Terjaringnya seluruh kasus resiko tinggi ibu hamil, bersalin, nifas dan  bayi baru lahir untuk mendapatkan penanganan yang memadai sesuai kasus dan rujukannya.

Tugas pokok sebagai bidan pembina desa tersebut diperkuat dengan Pengertian bidan desa menurut Leimena yang telah memberikan definisi  sebagai berikut “Bidan Desa adalah bidan yang ditempatkan, diwajibkan  tinggal serta bertugas melayani masyarakat dalam pencapaian target  derajat kesehatan di wilayah kerjanya yang meliputi satu sampai dua  desa.

Penempatan tersebut disamping dalam upaya penurunan AKB dan  AKI juga untuk meningkatkan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan  melalui Puskesmas dan Posyandu juga untuk meningkatkan kesadaran   masyarakat berperilaku hidup sehat serta dapat dimanfaatkan secara  optimal dan berkelanjutan demi tercapainya target derajat kesehatan  masyarakat
Rancangan program promosi kesehatan oleh bidan adalah memfokuskan bagaimana program kemitraan pelayanan persalinan terpadu dapat membantu peningkatan upaya keselamatan ibu dengan menjalin kemitraan dengan lintas sektoral yang terkait.
           Kemitraan mengandung arti saling bertukar pengetahuan, sumberdaya dan komitmen untuk mencapai tujuan bersama. Untuk itu diperlukan sikap saling menghargai dan keterbukaan tentang semua hal kemitraan dengan wanita. Pendekatan partisipasif ini melibatkan kaum ibu mampu mengenali dan menentukan prioritas masalah kesehatan ibu, menyusun rencana pemecahan masalah bersama pemerintah setempat dan melaksanakannya.

           Salah  satu  indikator  keberhasilan  pembangunan   kesehatan adalah  umur harapan hidup (UHH). UHH sendiri sangat ditentukan oleh indikator  kesehatan lainnya terutama angka kematian bayi (AKB), angka kematian   balita (AKABA) dan angka kematian ibu (AKI) disamping angka kematian  kasar (AKK)
Ada 4 (empat) “terlalu” dan 3 (tiga) “terlambat" yang biasanya  terjadi pada kematian ibu yaitu : terlalu muda untuk hamil dan melahirkan,  terlalu tua untuk hamil dan melahirkan, terlalu dekat jarak (sering)  kehamilan dan melahirkan dan terlalu banyak melahirkan, sedangkan 3  (tiga) terlambat yaitu terlambat mengambil keputusan untuk membawa ke  Rumah Sakit, terlambat membawa ke Rumah Sakit dan terlambat  ditangani.
Oleh kerena itu penting kiranya diingat oleh teman-teman bidan didesa bahwa kelaksanakan tugas di desa dengan baik berarti juga melaksanakan amanah yang telah diemban untuk menyelamatkan ibu dan bayi di mayapada ini.


       

         

Sabtu, 18 Februari 2012

°˚˚°♥♥•.¸¸.•»̶♡Gizi Buruk♡»̶•.¸¸.♥♥°˚˚°


                             
        Masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih perlu ditanggulangi secara terpadu oleh berbagai sektor. Masalah gizi utama yang dihadapi masyarakat adalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Anemia Gizi Besi (AGB), Kurang Energi Protein (KEP), Kekurangan Vitamin A (KVA), dan Gizi Lebih.
        
         Kurangya konsumsi makanan dan penyakit infeksi merupakan penyebab langsung, kemiskinan dan pendidikan yang rendah sebagai masalah utama yang harus ditanggulangi (Unicef, 1998). Cacat bawaan dan kelainan congenital cenderung sebagai “Underlying” factor yang menyebabkan anak menjadi gizi buruk.

           Sasaran yang ingin dicapai adalah peningkatan umur harapan hidup, menurunan angka kematian bayi, menurunnya angka kematian ibu dan menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita. Pada tingkat pelayanan dasar ( Puskesmas ) pendekatan dilakukan melalui usaha peningkatan peran serta masyarakat untuk menolong dirinya dalam bidang  kesehatan atau dengan cara memberdayakan potensi yang ada di masyarakat.

             Strategi perbaikan gizi 2010-2014 disusun dalam rangka akselerasi pencapaian sasaran perbaikan gizi yang ditetapkan (RPJMN dan MDG’s 2015). Sasaran kebijakan perbaikan gizi 2010-2014 adalah menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi setinggi-tinggi nya 18% : dan prevalensi gizi lebih menjadi setinggi-tinggi nya 10%. Salah satu strategi perbaikan gizi adalah penyediaan pelayanan gizi dan kesehatan gratis bagi keluarga miskin di semua fasilitas pelayanan kesehatan (tenaga, sarana, obat, dll).

             Pendekatan yang digunakan yakni melalui upaya pelayanan kesehatan yang dititik beratkan pada komponen pokok (Basix Six) yakni Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan KB, .Gizi, Imunisasi, Pemberantasan Penyakit (P2M), Kesehatan Lingkungan dan Pengobatan Dasar.

             Rangkaian enam komponen tersebut sudah dan akan selalu dilaksanakan di Puskesmas Curug sebagai salah satu kegiatan program pokok puskesmas yang harus berjalan dalam kegiatan sehari-hari dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Curug yang optimal.


        Masalah gizi buruk banyak melanda di sejumlah wilayah di Indonesia, tak terkecuali wilayah kerja UPT Puskesmas Curug. salah satu penyebab terjadinya gizi kurang adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat khususnya ibu dalam memberikan asupan gizi maksimal kepada bayinya.

             Sebenarnya terjadinya Kurang Energi Protein pada seseorang selalu diawali dengan adanya kelaparan.  Pada tubuh seseorang yang tidak makan dengan layak biasanya akan muncul adanya sensasi lapar, yang menunjukkan intake makanan telah kurang dari yang dibutuhan tubuh. Secara fisiologis dalam keadaan lapar yaitu bila lambung kosong dalam waktu lama, akan terjadi kontraksi peristaltik ritmis yang merupakan gelombang pencampur tambahan pada korpus lambung. Jika gelombang pencampur sangat kuat akan menimbulkan kontraksi tetani yang terus-menerus 2-3 menit, paling kuat terjadi pada orang muda sehat, — pada anak-anak tidak terlalu terasa—— kemudian kadar gula darah akan turun sampai tingkat yang rendah. Dan kemudian setelah  3-4 hari makan terakhir muncul sensasi sakit  berupa perih karena lapar.

               Dari berbagai penelitian epidemiologi masalah Kurang Energi Protein selalu diawali dengan keadaan lapar  yaitu Rasa “tidak enak” dan sakit akibat kurang /tidak makan,baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja diluar kehendak dan terjadi berulang-ulang, serta dalam jangka waktu tertentu menyebabkan penurunan berat badan dan gangguan kesehatan. Selanjutnya keadaan ini didefiniskan  dengan istilah kelaparan (E. Kennedy, 2002)

            Jadi sangatlah jelas penyebab dari kurang energy protein (KEP) adalah makanan yang tidak adekuat maksudnya  intake makanan yang sangat kurang dari kebutuhan akan zat gizi tubuh. Walaupun pada dasarnya Kejadian Kurang Energi Protein (KEP) sangat tergantung dari :
1.     Karakteristik individu (umur, cadangan nutrient)
2.     Waktu dan hebatnya berlangsung defisiensi
3.     Jenis makanan yang tersedia /dikonsumsi
4.     Lingkungan terutama sanitasi lingkungan
5.     Kesehatan perorangan
6.     Dan pada anak sangat tergantung dari pola asuh orang tua yang diberikan kepada sang anak.

           Tetapi tetap saja Kurang Energi Protein disebabkan  intake makanan yang sangat kurang dari kebutuhan akan zat gizi tubuh yang telah berlangsung lama (kronis). Bentuk KEP tergantung dari zat gizi utama kurang edekuat, bila kurang dalam hal protein dan tubuh diharuskan menggunakan protein tubuh maka gejala-gejala klinis dari kekurangan protein akan muncul, keadaan ini biasa diistilahkan dengan Kwashiorkor. Dan bila kekurangan Energi saja —–terutama energi yang bersumber dari karbohidrat——-maka gejala klinis yang muncul adalah  kekurangan cadangan energy atau energy tubuh benar-benar habis bahkan sel-sel dan jaringan tubuh dirombak untuk dipergunakan sebagai energi, tubuhnya akan terlihat sangat buruk, keadaan ini biasa diistilahkan dengan Marasmus. Tidak jarang juga ditemukan bentuk KEP sebagai akibat kurang adekuat makanan akan protein dan energy (Marasmus-Kwashiorkor). Kesemua itu adalah bentuk-bentuk dari Malnutrisi (kurang Energi Protein).

Bentuk  Malnutrisi (Kurang Energi Protein)
1.     Dewasa dibagi dalam  dua bentuk  yaitu Undernutrition (Kurang Zat Gizi) dan Starvation (Kelaparan)
2.     Anak-anak  dalam   bentuk PEM----- Protein Energi Malnutrition      (menurut JELLIFFE  mencakup seluruh kelompok umur anak) dikelompok menjadi : PEM ringan, PEM sedang dan PEM berat   yang terdiri dari Merasmus, Kwashiorkor dan Merasmus –kwashiorkor.
Walaupun semua adalah Malnutrisi tetapi masing-masing mempunyai gejala klinis sendiri-sendiri baik marasmus, kwashiorkor, maupun marasmus-kwashiorkor.
.
Gejala Klinis dari Marasmus 
Gejala Klinis Kurang Energi Protein (KEP) dari marasmus adalah
1.     Wajah seperti orang tua
2.     Cengen dan Rewel
3.     Sering disertai: peny. infeksi (diare, umumnya kronis berulang, TBC)
4.     Tampak sangat kurus (tulang terbungkus kulit)
5.     Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (~pakai celana longgar-baggy pants)
6.     Perut cekung
7.     Iga gambang



             Bahkan sejumlah ibu, memberikan makanan yang tidak sesuai seperti pisang dan sejenisnya ketika anaknya masih usia balita.  Rendahnya pemahaman tersebut juga disebabkan oleh pola hidup tidak bersih dan masih banyaknya perkawinan diusia muda. Selain berpengaruh terhadap IQ anak, kurang gizi pada balita juga akan menyebabkan anak menjadi stunting, dimana tinggi badan tidak sesuai dengan umurnya.

Kamis, 09 Februari 2012

PELATIHAN KADER JUMANTIK





          DBD merupakan penyakit endemis di Banten  termasuk di Kota Serang. Tahun 2011 kasus DBD di Kota Serang  sebanyak 264 kasus dengan kematian 0  orang.
DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat nyamuk aedes aegeypti dan aedes albopictus. Siklus Nyamuk ini dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa adalah 7-10 hari.
Penanggulangan DBD yang paling efektif untuk memutus mata rantai penularan dan memberantas nyamuk adalah dengan menggunakan Pemberantasan Sarang Nyamuk(PSN) dengan 3M (Menguras, Mengubur dan Menutup).

       
         Ibu-ibu ini adalah para kader juru pemantau jentik alias "jumantik". Sesuai namanya, mereka bertugas untuk memantau keberadaan jentik-jentik nyamuk pada tempat-tempat penampungan air di rumah-rumah penduduk guna menekan wabah DBD yang dalam beberapa tahun terakhir trennya cenderung meningkat.
Hari ini kami  berkumpul  dalam rangka silaturahmi dan melakukan kegiatan evaluasi dari hasil kegiatan bulan yang lalu. Dari 15 orang kader jumantik yang ada di Kecamatan Curug, yang hadir hanya 9 orang karena kegiatan tersebut bertepatan dengan acara Maulid Nabi di beberapa desa. Ibu-ibu Kader yang hadir pada hari ini adalah:
  • ibu Een Atikah
  • ibu Titin Suhartini
  • ibu Nurhayati
  • ibu Ernawati
  • ibu Sri Rahayu
  • ibu Johariah
  • ibu Siti Aminah
  • ibu Yati Sumiyati 



         Pengembangan kegiatan PSN melalui Posyandu mulai di tingkatkan  karena melihat kondisi masyarakat yang sangat mengenal ibu-ibu kader mereka dari kegiatan POSYANDU yang biasa dilakukan pada setiap bulannya. Ini dimaksudkan untuk melatih dan membudayakan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, terutama dalam menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya. Gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) di Kecamatan Curug  disamping dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program yang dibantu oleh sektoral terkait, juga dilaksanakan oleh kader PKK yang dikenal dengan nama Kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik). Jumantik ini tugasnya secara sukarela melaksanakan pemeriksaan jentik ke rumah warga secara rutin setiap minggu sekali secara bergiliran. Sasaran pemeriksaan adalah tempat-tempat penampungan air seperti bak kamar mandi, gentong air, saluran air disekitar rumah. 

        Mereka terlebih dahulu dilatih tentang bagaimana melaksanakan pemeriksaan jentik dengan benar dan dibekali dengan peralatan senter. Hasil pemeriksaan yang ditunjukkan oleh ada tidaknya jentik di suatu rumah dicatat pada Kartu Jentik yang ditempel di masing-masing rumah, sehingga secara periodik dapat diketahui perkembangannya.

         Selain pemeriksaan jentik, yang tak kalah pentingnya adalah penyuluhan tentang PSN dan Penyakit Demam Berdarah sebagai akibat lingkungan yang kurang bersih. Kader Jumantik yang juga bertugas memberi penyuluhan pada masyarakat, sangatlah penting keberadaannya dalam membantu petugas guna menyebarluaskan informasi kesehatan khususnya dalam rangka mencegah terjadinya penyakit Demam Berdarah.
          Melalui kegiatan PSN ini diharapkan masyarakat lebih termotivasi untuk mewujudkan lingkungan  yang bersih dan sehat, sehingga Angka Bebas Jentik semakin meningkat dan pada akhirnya kasus Demam Berdarah di Kota Serang khususnya Kecamatan Curug  dapat dieliminir.

Selasa, 07 Februari 2012

PROFIL UPT PUSKESMAS CURUG TAHUN 2011

PETA WILAYAH KECAMATAN CURUG KOTA SERANG - BANTEN
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang  
            Puskesmas sebagai organisasi atau lembaga milik Pemerintah  berperan sebagai ujung tombak terdepan dalam melaksanakan pembangunan dibidang kesehatan. Dalam menjalankan fungsinya Puskesmas harus menerapkan fungsi managemen dengan sebaik-baiknya, karena  dalam organisasi Puskesmas terdapat sumber – sumber daya, program, sarana dan prasarana yang sangat kompleks,  yang mana bila tidak menjalankan managemen dengan baik akan timbul banyak permasalahan-permasalahan  yang akan mengganggu proses dalam mencapai tujuan. Proses pencapaian tujuan yang diinginkan Puskesmas harus melalui Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan dan  Penilaian (evaluasi) dengan demikian  suatu organiasai akan  dapat menjalankan fungsinya  dengan baik.
Profil Puskesmas Curug disusun dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada Pembaca, Masyarakat atau relasi yang ingin mengetahui informasi secara lengkap mengenai Puskesmas Curug. Profil Puskesmas Curug  ini berisi tentang informasi mengenai sistem Pelayanan, hasil kegiatan, fasilitas yang disediakan dan sebagainya.
Profil UPT Puskesmas Curug adalah gambaran situasi kesehatan di UPT Puskesmas Curug yang diterbitkan setiap tahun sekali, Dalam Profil ini memuat berbagai data tentang kesehatan, yang meliputi data derajat kesehatan, upaya kesehatan dan sumber daya kesehatan. Profil kesehatan juga menyajikan data pendukung lain yang berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan, data sosial ekonomi, data lingkungan dan data lainnya. Data dianalisis dengan analisis sederhana dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik.
Penerbitan profil UPT Puskesmas Curug  tahun 2011 ini adalah agar diperoleh gambaran keadaan kesehatan di UPT Puskesmas Curug khususnya tahun 2011 dalam bentuk narasi, tabel, dan gambar.
Profil UPT Puskesmas Curug  tahun 2011 diharapkan dapat memberikan data yang akurat, untuk mengambil keputusan berdasarkan fakta. Selain itu profil ini dapat digunakan sebagai penyedia data dan informasi dalam rangka evaluasi perencanaan, pencapaian Program kegiatan di UPT Puskesmas Curug  tahun 2011 dengan mengacu kepada Visi Indonesia Sehat 2015
Kini MDGs telah menjadi referensi penting pembangunan di Indonesia, mulai dari tahap perencanaan seperti yang tercantum pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) hingga pelaksanaannya. Walaupun mengalamai kendala, namun pemerintah memiliki komitmen untuk mencapai sasaran-sasaran ini dan dibutuhkan kerja keras serta kerjasama dengan seluruh pihak, termasuk masyarakat madani, pihak swasta, dan lembaga donor. Pencapaian MDGs di Indonesia akan dijadikan dasar untuk perjanjian kerjasama dan implementasinya di masa depan. Hal ini termasuk kampanye untuk perjanjian tukar guling hutang untuk negara berkembang sejalan dengan Deklarasi Jakarta mengenai MDGs di daerah Asia dan Pasifik.
Dalam mencapai Visi Indonesia Sehat 2015 sasaran pembangunan MDGs (millennium development goals) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pemerintah Indonesia, berbeda dengan Visi Indonesia Sehat 2010, sasaran MDGs ada indikatornya serta kapan harus dicapai. Sasaran MDGs ini bisa dijadikan slogan “Indonesia Sehat di tahun 2015” sebagai pengganti slogan sebelumnya. Dalam visi ini Indonesia mempunyai delapan sasaran MDGs salah satunya yaitu mengurangi angka kematian bayi dan ibu pada saat persalinan. Maksud dari visi tersebut yaitu kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta bayi yang akan dilahirkan hidup sehat, dengan misinya menurunkan kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan di dalam menghadapi persalinan yang aman
Sasaran MDGs yang lain yaitu menurunkan angka kelaparan (kurang gizi) menjadi setengahnya (50 persen) di tahun 2015 dibanding tahun 1996. Kemudian menurunkan angka kematian bayi dan balita, juga menjadi setengahnya dibanding tahun 1996. Lalu menurunkan angka kematian ibu sebanyak 75 persen, mengendalikan penularan penyakit menular, khususnya TBC dan HIV, sehingga pada tahun 2015 nanti diharapkan jumlahnya tidak meningkat lagi tetapi justru menurun.
Untuk mencapai tujuan MDG tahun 2015 diperlukan koordinasi, kerjasama serta komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, utamanya pemerintah (nasional dan lokal), masyarakat sipil, akademia, media, sektor swasta dan komunitas donor. Bersama-sama, kelompok ini akan memastikan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai tersebar merata di seluruh Indonesia.Pemerintah Indonesia tetap memegang komitmennya untuk melaporkan kemajuan pencapaian MDGs tersebut.

1.2.Maksud dan Tujuan
Profil  UPT Puskesmas Curug  disusun dengan tujuan :
1.2.1.      Untuk memberikan gambaran tentang Puskesmas Omben secara lengkap baik dari segi sistem pelayanan, managemen, fisik, program, hasil kegiatan dan sebagainya.
1.2.2.      Untuk dijadikan bahan masukan untuk pengevaluasian mengenai hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
1.2.3.      Sebagai salah satu bahan “marketing” atau promosi tentang produk-produk yang dihasilkan di UPT Puskesmas Curug
BAB II
GAMBARAN UMUM DAN LINGKUNGAN

2.1. Moto,Visi, Misi dan Strategi Puskesmas Curug
MOTTO
UPT Puskesmas Curug Menuju Puskesmas “BERPRESTASI” : Bersih, Prestise, Taqwa, Santun & Inovatif

VISI 
Terwujudnya Masyarakat Kecamatan Curug Yang Hidup Sehat dan Mandiri Menuju Kecamatan Curug Madani

MISI
1)            Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, 
2)            Melaksanakan  pelayanan kesehatan yang yang terjangkau dan merata
3)            Mengoptimalkan sumber daya kesehatan secara merata
4)            Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat 

STRATEGI
1)            Meningkatkan pemberdayaan masyarakat  dalam pembangunan kesehatan  di Kecamatan Curug melalui kemitraan
2)            Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dan berkeadilan, serta berbasis data, menyeluruh dengan pengutamaan pada upaya promotif dan preventif.
3)            Meningkatkan cakupan pembangunan kesehatan, melalui pendanaan yang ada di puskesmas dan masyarakat.
4)            Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan yang merata dan kompetitif.
5)            Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan.
6)            Meningkatkan manajemen kesehatan yang bertanggung jawab, transparan berdaya guna dan berhasil guna untuk memantapkan pelayanan kesehatan
7)            Menjamin tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau bagi masyarakat  Kecamatan Curug sesuai dengan prosedur yang berlaku
8)            Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular dan tidak menular
9)            Memberikan jaminan pelayanan kesehatan terhadap kepesertaan asuransi kesehatan kepada masyarakat miskin  

2.2.  SITUASI DAN KEADAAN UMUM
Kecamatan Curug terdiri dari 10 Desa, 38 RW dan 157 RT. Adapun Luas wilayah adalah 39,40 km² terdiri dari tanah pesawahan, tegalan, dan lahan pertanian lainnya. Kecamatan Curug di batasi oleh :
-     Sebelah Utara              : Kecamatan Cipocok Jaya
-     Sebelah Selatan           : Kecamatan Petir dan Baros Kabupaten Serang
-     Sebelah Timur             : Kecamatan Walantaka Kota Serang dan Cikeusal
                                           Kabupaten Serang
-     Sebelah Barat              : Kecamatan Pabuaran Kabupaten Serang
Kecamatan Curug merupakan daerah pengembangan pertanian dan pemukiman serta pengembangan Kantor Pusat  Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B). Fasilitas tranportasi ke seluruh desa dapat dijangkau dengan roda dua dan roda empat
2.3. Data Demografi Kecamatan Curug
Penduduk Kecamatan Curug pada Tahun 2011  sejumlah 47. 308 orang, Sebagian besar penduduk Kecamatan Curug berusia 22 – 59 tahun, dengan mata pencahariannya sebagian besar adalah petani. Untuk pendidikan sebagian besar berpendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Masyarakat Curug merupakan masyarakat religius dimana peran tokoh agama dan tokoh masyarakat sangat memiliki pengaruh.
Untuk data kependudukan dapat dilihat sebagai berikut :
  • Laki –laki                    : 24.574 orang
  • Wanita                         : 22. 734 orang
  • Bayi                             :    1.003 orang
  • Anak Balita                 :    4.797 orang
  • Ibu Hamil                    :        979 orang
  • Ibu bersalin                 :        872 orang

2.4. Program dan Kegiatan
Kriteria dari UPTD adalah sebagai berikut :
a.      Tidak melaksanakan fungsi pengaturan, pembinaan, perizinan.
b.      Mempunyai misi /tugas pokok yang jelas dan tidak berduplikasi atau tumpang  tindih dengan unit   
         organisasi yg lain.
c.       Didukung oleh 3 (tiga ) factor : SDM, anggaran,sarana/prasarana kerja.
d.      Memiliki rencana Program dan kegiatan pengembangan yang berkelanjutan.

Fungsi Puskesmas adalah :
a.       Pusat Pembangunan berwawasan Kesehatan.
b.      Pusat pemberdayaan masyarakat.
c.       Pusat pelayanan Kesehatan strata pertama yang meliputi :
• Pelayanan Kesehatan Perorangan
• Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Dalam pelaksanaan ketiga fungsi diatas, Puskesmas memiliki beberapa program, dimana program tersebut dikelompokkan menjadi :
a. Program Kesehatan Dasar (Upaya Kesehatan Wajib )
• Upaya Promosi Kesehatan
• Upaya Kesehatan Lingkungan
• Upaya KIA KB
• Upaya Perbaikan Gizi masyarakat.
• Upaya P2M
• Upaya Pengobatan Dasar
b. Program Kesehatan Pengembangan (Upaya Kesehatan Pengembangan )
• Upaya Kesehatan Sekolah
• Upaya Kesorga
• Upaya Kesehatan Lansia
• Upaya Kesehatan Gilut
• Upaya Kesehatan Jiwa
• Upaya Kesehatan Mata
• Upaya Kesehatan THT
• Upaya Kesehatan Kerja
• Perkesmas
c. Upaya Kesehatan Penunjang
• SP2TP
• Laboratorium.
Fasilitas pendidikan di wilayah Puskesmas Curug adalah sebagai berikut :
a. TK                        : 5   buah
b. SD dan MI           : 23 buah
c. SLTP dan MTs     : 8   buah
d. SMK                    : 3   buah
Data Fasilitas Kesehatan di Puskesmas Curug
Fasilitas kesehatan yang terdapat di Pukesmas Curug adalah sebagai berikut :
a. Puskesmas                        : 1 buah
b. Puskesmas Pembantu       : 1 buah
c. Polindes                            : 1 buah
d. Poskesdes                        : 2 buah
e. Mobil Pusling/Ambulance  : 1 buah
f.  Klinik Umum                    : 1 buah
g. Praktek Dokter Bersama  : 1 buah
h. Praktek dokter gigi          :  1  orang
i. Praktek Bidan                   :  5 orang
j.  Posyandu                         : 43 buah
Data Ketenagaan di Puskesmas Curug
         Jumlah dan Jenis Ketenagaan yang ada di Puskesmas Curug adalah sebagai berikut :
  1. Administrator Kesehatan Masyarakat               :  2  orang
  2. Dokter Umum                                                 :  2  orang
  3. Dokter Gigi                                                     :  2  orang
  4. Perawat Umum                                               :  8  orang
  5. Perawat Gigi                                                   :  2  orang
  6. Bidan di Desa                                                 :  13 orang 
  7. Bidan Puskesmas                                            :  5  orang
  8. Sanitarian                                                        :  2  orang
  9. Ahli Gizi                                                         :  2  orang
  10. Ahli Laboratorium                                          :  2  orang
  11. Asisten Apoteker                                            :  1  orang
  12. Fisoterafi                                                         :  1  orang
  13. Tenaga Umum Rekam Medis                           :  2  orang
  14. Honorer                                                           :  5  orang
  15. Magang                                                           :  2  orang       
2.5. Cakupan Pelaksanaan Program

NO
INDIKATOR
ANGKA/NILAI




A.
GAMBARAN UMUM


1
Luas Wilayah
39,40
Km2
2
Jumlah Desa/Kelurahan
10
Desa/Kel
3
Jumlah Penduduk
45177
Jiwa
4
Kepadatan Penduduk /Km2
1201
Jiwa/Km2
5
Jumlah Penduduk Laki-laki
24574
Jiwa
6
Jumlah Penduduk Perempuan
22734
Jiwa
7
Rasio Beban Tanggungan
0

8
Rasio Jenis Kelamin
0

9
Pddk 10 th keatas Melek Huruf

%
10
Pddk 10 th keatas Melek Huruf (Laki-laki)

%
11
Pddk 10 th keatas Melek Huruf (Perempuan)

%




B.
DERAJAT KESEHATAN


B.1
Angka Kematian


12
Jumlah Lahir Hidup
867
Bayi
13
Jumlah Bayi Mati
5
Bayi
14
Angka Kematian Bayi (dilaporkan)
5
Bayi
15
Jumlah Balita Mati
1
Balita
16
Angka Kematian Balita (dilaporkan)
1
Balita
17
Jumlah Kematian Ibu Maternal
1
Ibu
18
Angka Kematian Ibu (dilaporkan)
1
Ibu
B.2
Angka Kesakitan


19
AFP Rate < 15 th
0

20
TB Paru Sembuh
97
%
21
Pneumonia Balita Ditangani
100
%
22
HIV/AIDS ditangani
0
%
23
Infeksi Menular Seksual ditangani
100
%
24
Angka Kesakitan DBD
9
ORANG
25
DBD ditangani
100
%
26
Angka Kesakitan Diare
1371
orang
27
Diare pada Balita ditangani
100
%
28
Angka Kesakitan Malaria
0

29
Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat (PB)
4 orang
100%
30
Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat (MB)
9 orang
67%
31
Kasus Penyakit Filariasis ditangani
1
100%
32
Jumlah Kasus Difteri
0
Kasus
33
Jumlah Kasus Pertusis
0
Kasus
34
Jumlah Kasus Tetanus
0
Kasus
35
Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum
0
Kasus
36
Jumlah Kasus Campak
9
Kasus
37
Jumlah Kasus Polio
0
Kasus
38
Jumlah Kasus Hepatitis B
0
Kasus




B.3
Status Gizi

39
Kunjungan Neonatus (KN2)
83
%
40
Kunjungan Bayi
85
%
41
Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR)
1
%
42
BBLR ditangani
100
%
43
Balita ditimbang
100
%
44
Balita BB Naik
33,9
%
45
BGM
4,9
%
46
Balita Gizi Buruk
0,9
%




C.
UPAYA KESEHATAN


C.1
Pelayanan Kesehatan


47
Kunjungan Ibu Hamil (K1)
88,8
%
48
Kunjungan Ibu Hamil (K4)
42,6
%
49
Persalinan ditolong Tenaga Kesehatan
60,3
%
50
Deteksi Dini Tumbang Anak Balita
94,4
%
51
Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD/MI
100
%
52
Pemeriksaan Kesehatan Siswa SMP/SMU
100
%
53
Peserta KB Baru
20
%
54
Peserta KB Aktif
78
%
55
Peserta KB Aktif (MKJP + Non MKJP)
100
%
56
Peserta KB Baru (MKJP + Non MKJP)
100
%
57
Desa/Kelurahan UCI
100
%
58
Cakupan Imunisasi Campak Bayi
95,3
%
59
Drop-Out Imunisasi DPT1-CAMPAK
0
%
60
MP-ASI Bayi BGM
40,8
%
61
Anak Balita Mendapat Vit.A 2x
84,2
%
62
Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan
88
%
63
Ibu Hamil Mendapat Tablet Fe1
88,8
%
64
Ibu Hamil Mendapat Tablet Fe3
         39,6   %
65
WUS dg imunisasi TT5
0
%
66
Ketersediaan darah Bumil yg dirujuk
100
%
67
Ketersediaan darah Neonatus yg dirujuk
0
%
68
Bumil Risti/Komplikasi
58
%
69
Bumil Risti/Komplikasi ditangani
41
%
70
Neonatal Risti dirujuk
1
%
71
Neonatal Risti dirujuk dan ditangani
100
%
72
Sarkes dg Kemampuan Yan. Gadar
0
%
73
Desa/Kel. Terkena KLB ditangani < 24 jam
100
%
74
Bayi yang diberi ASI Eksklusif

%
75
Desa/Kel. Dg Garam Beryodium yg baik
72
%
76
Rasio Tambal/Cabut Gigi Tetap
0
%
77
Murid SD/MI Diperiksa (UKGS)
1155
orang
78
Murid SD/MI Mendapat Perawatan (UKGS)
41
%
79
Peserta Jaminan Kesehatan Pra Bayar
47308
orang
80
Penduduk Miskin dicakup JPKM
126
%
81
Penduduk Miskin Mendapat Yankes
126
%
82
Bayi Gakin BGM Mendapat MP-ASI
100
%
83
Pelayanan Kesehatan Pra Usila dan Usila
100
%
84
WUS yang diberi Kapsul Yodium
0
%




C.2
Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan


85
Sarkes yang memiliki Labkes
1
Labkes




C.3
Perilaku Hidup Masyarakat


86
Rumah Tangga ber-PHBS
50,6
%
87
Posyandu Aktif
43
posyandu




C.4
Keadaan Lingkungan


88
Rumah yang diperiksa kesehatannya
817
rumah
89
Rumah Sehat
7
%
90
Keluarga yang diperiksa air bersihnya
817
rumah
91
Keluarga yang memiliki akses air bersih
56
%
92
KK memiliki Jamban
5207
rumah
93
KK memiliki Jamban Sehat
8,1
%
94
KK memiliki Tempat Sampah
4769
rumah
95
KK memiliki Tempat Sampah Sehat
8,8
%
96
KK memiliki Pengelolaan Air Limbah
3969
rumah
97
KK memiliki Pengelolaan Air Limbah Sehat
10,6
%
98
TUPM Sehat
81,3
%
99
Institusi dibina Keslingnya
51,6
%
100
Rmh/Bangn diperiksa Jentik Nyamuk Aedes
270
rumah
101
Rmh/Bangn bebas Jentik Nyamuk Aedes
90
%




D.
SUMBERDAYA KESEHATAN


D.1
Tenaga Kesehatan


102
Jumlah Tenaga Medis
4
Orang
103
Jumlah Tenaga Perawat dan Bidan
26
Orang
104
Jumlah Tenaga Farmasi
1
Orang
105
Jumlah Tenaga Gizi
2
Orang
106
Jumlah Tenaga Tehnisi Medis
2
Orang
107
Jumlah Tenaga Sanitasi
2
Orang
108
Jumlah Tenaga Kesmas
              0    Orang
109
Jumlah Tenaga Kesehatan
35
Orang
110
Jumlah Tenaga Dokter Spesialis
0
Orang
111
Jumlah Tenaga Dokter Umum
2
Orang
112
Jumlah Tenaga Dokter Gigi
2
Orang




D.2
Pembiayaan Kesehatan


113
Total Anggaran Kesehatan
RP. 184.250.000
114
APBD Kesehatan thd APBD Kab/Kota
38
%
115
Anggaran Kesehatan Perkapita
0
%




D.3
Sarana Kesehatan


116
Jumlah Desa Siaga
6
Desa
117
Jumlah Polindes
2
Polindes
118
Jumlah Posyandu
43
Psyd



BAB III
SITUASI   UPAYA  KESEHATAN

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan masyarakat. Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. Mutu pelayanan kesehatan dasar adalah kesesuaian antara pelayanan kesehatan dasar yang disediakan / diberikan dengan kebutuhan yang memuaskan pasien atau kesesuaian dengan ketentuan standar pelayanan. Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut :

3.1 Penyuluhan Kesehatan

Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan. Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa dilakukan, secara perseorangan maupun secara kelompok dan meminta pertolongan (Effendy, 1998). Pendidikan kesehatan adalah suatu proses perubahan pada diri seseorang yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan kesehatan individu, dan masyarakat . Pendidikan kesehatan tidak dapat diberikan kepada seseorang oleh orang lain, bukan seperangkat prosedur yang harus dilaksanakan atau suatu produk yang harus dicapai, tetapi sesungguhnya merupakan suatu proses perkembangan yang berubah secara dinamis, yang didalamnya seseorang menerima atau menolak informasi, sikap, maupun praktek baru, yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat (Suliha, dkk., 2002). Berdasarkan hal tersebut UPT Puskesmas Curug selalu mengedepankan program penyuluhan sebagai program andalan, karena UPT Puskesmas Curug harus selalu mengkaji lebih dalam tentang kebutuhan kesehatan dimasyarakat yang masih sangat awam pengetahuannya tentang kesehatan. Sehingga kami mampu menetapkan masalah kesehatan di masyarakat tersebut. Prioritas kami selaku pelayan kesehatan terlebih dahulu memecahkan masalah dengan penyuluhan di masyarakat.
3.2. Pelayanan Kesehatan Dasar
Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan di UPT Puskesmas Curug, kami menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, dimana keduanya jika ditinjau dari Sistem Kesehatan Nasional, merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya pelayanan tersebut dikelompokan dalam 2 kelompok besar yaitu :
  1. Upaya Kesehatan Wajib.
1.      Upaya Promosi Kesehatan.
2.      Upaya Kesehatan Lingkungan.
3.      Upaya KIA/KB
4.      Upaya Perbaikan Gizi.
5.      Upaya P2M.
6.      Upaya Pengobatan Dasar.
  1. Upaya Kesehatan Pengembangan.
1.      Upaya Kesehatan Sekolah / Upaya Kes. Gigi Sekolah.
2.      Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
3.      Upaya Kesehatan Gigi Dan Mulut
4.      Upaya Kesehatan Jiwa
5.      Upaya Kesehatan Mata
6.      Upaya Kesehatan Lansia.
7.      UGD.
8.      Rawat Inap / K. Bersalin
9.      Upaya Kesehatan Kerja.
10.  PTKBM ( Pembinaan Tumbuh Kembang Balita Mandiri ).

Dengan Upaya Penunjang meliputi :
1.      Laboratorium.
2.      SP2TP.



BAB IV
SITUASI SUMBER DAYA  KESEHATAN

4.1. PEMBIAYAAN
Pembiayaan bidang kesehatan merupakan sumbangan yang sangat penting untuk dapat berjalannya semua kegiatan. Oleh karena itu hal yang terpenting dalam hal pembiayaan adalah bagaimana memanfaatkan anggaran yang tersedia seoptimal mungkin dan seefesien mungkin.
Pembiayaan bidang kesehatan berasal dari beberapa sumber misalnya APBD (APBD kabupaten dan propinsi), APBN serta Pinjaman atau hibah. Alokasi anggaran dapat melalui sektor kesehatan maupun non kesehatan yang tujuannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Curug.
Dengan rincian anggaran sebagai berikut :

NO
SUMBER BIAYA
ALOKASI ANGGARAN KESEHATAN

Rupiah
%
1
2
3
4

ANGGARAN KESEHATAN BERSUMBER:

1
APBD KAB/KOTA



a. Belanja Langsung
Rp70.499.000
38%

b. Belanja Tidak Langsung
Rp0
0%
2
APBD PROVINSI
Rp0
0%
3
APBN :

0%

- Dana Alokasi Khusus (DAK)
Rp0
0%

- ASKESKIN
Rp61.451.000
33%

- Lain-lain (sebutkan)…BOK…
Rp52.300.000
28%
4
PINJAMAN/HIBAH LUAR NEGERI (PHLN)
Rp0
0%
5
SUMBER PEMERINTAH LAIN
Rp0
0%
TOTAL ANGGARAN KESEHATAN DI PKM CURUG
Rp184.250.000
100%


4.2.  SARANA DAN PRASARANA
 Selanjutnya bagian yang juga tidak bisa dipisahkan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat adalah sarana dan prasarana. Secara rinci di bawah ini diuraikan tentang keberadaan sarana dan prasarana yang ada pada UPT Puskesmas Curug tahun 2011. Tabel berikut memperlihatkan jumlah sarana kesehatan yang ada di UPT Puskesmas Curug tahun  sampai dengan bulan Januari 2012 sebagai berikut;

Sarana dan Prasarana di  UPT Puskesmas Curug
NO.
Sarana Dan Prasarana
Jumlah
Kondisi
1
Puskesmas Induk
1
Baik
2
Laboraturium Klinik
1
Belum lengkap
3
Puskesmas Pembantu
2
Baik
4
Poskesdes
2
Baik
5
Polindes
1
Rusak Berat
6
Rumah Dinas Dokter
1
Rusak Ringan
7
Rumah Dinas Paramedis
1
Rusak Berat
8
Ambulance
1
Rusak Ringan
9
Sepeda Motor  Dinas
11
Rusak Berat Dua Buah
10
Komputer
7
Rusak Berat Empat Buah
11
Jaringan LAN
Tidak Ada
-
12
Jaringan Internet
Tidak Ada
-
Peralatan Medis
13
Peralatan untuk diagnostic set
~ Puskesmas Set
Ada
Tidak Lengkap
~ Pustu Set
Ada
Tidak Lengkap
14
Peralatan untuk kesehatan gigi set
~ Dental Unit
1
Baik
~Perawatan Gigi Set
1
Baik
15
Peralatan untuk Laboraturium set
Ada
Tidak Lengkap
16
Peralatan untuk Tindakan Medis  set
Ada
Tidak Lengkap
17
Bidan Kit – KIA Set
Ada
Cukup baik
18
Pusling Kit
1
Baik
Peralatan Non Medis
19
Cold chain
1
Baik
20
Sanitarian Kit
0
0
21
Alat  fogging
0
0
22
P3K set
1
Baik
23
Mist blower agrimondo K.45
0
0
24
Vaksin carier
Ada
Cukup baik
25
PONED set
0
0

Dilihat dari tabel diatas, terlihat ada beberapa sarana dan prasarana yang mencukupi dan ada juga belum  mencukupi. Keadaan tersebut  diharapkan secara bertahap  dapat dipenuhi oleh pemerintah.
Dalam penanggulangan strategi DOTS komponen pemeriksaan specimen dahak dengan mokroskopis adalah merupakan kunci utama penengakan diagnosis, akan tetapi walau telah memiliki sarana mikroskopis masih belum menjamin dari terjadinya infeksi nosokomial yang disebabkan oleh kurangnya prasarana untuk menunjang pencegahan infeksi tersebut. Terlebih Puskesmas Curug untuk kedepan dipersiapkan untuk Puskesmas Perawatan/Rawat Inap maka seyogyanya pihak pemeritah memberikan fasilitas sarana dan prasarana yang lengkap minimal dengan standarisasi  ideal sebuah Puskesmas Perawatan.  Karena Laboraturium Klinis sangat berperan dalam penegakan diagnosis, untuk itu selayaknyalah sesuah puskesmas memiliki sarana Laboraturium yang memadai.
Sumber daya ketenagaan merupakan bagian penting dalam menjalankan kegiatan atau program pada semua unit pelayanan baik langsung maupun tidak langsung. Peningkatan derajat kesehatan, yang di tandai dengan menurunnya angka kematian ibu dan bayi, menurunnya angka kesakitan pada masyarakat dan tidak ditemukannya masalah gizi buruk dimasyarakat, tentunya sangat dipengaruhi oleh sumber daya ketenagaan, baik secara kuantitas maupun kualitas.
Keadaan ketenagaan khususnya tenaga kesehatan di Puskesmas Curug perlu diperhatikan baik secara pengadaan maupun pendistribusian. Seperti diketahui Puskesmas Curug  ini  merupakan wilayah yang mayoritas penduduknya masih sangat awam dan wilayahnya masih cukup terpencil. Sehingga masih banyak Tenaga Kesehatan khususnya bidan yang belum tinggal ditempat.  
NO
UNIT KERJA
TENAGA KESEHATAN
MEDIS
PERAWAT & BIDAN
FARMASI
GIZI
TEKNISI MEDIS
SANITASI
KESMAS
TEKNIS LAIN
JUMLAH
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11











1
PUSKESMAS CURUG
2
26
1
2
2
2
0
15
50











Selain keberadaan tenaga kesehatan, namun yang tidak kalah penting untuk membantu melaksanakan pelayanan, diperlukan juga tenaga non kesehatan. Perbandingan jumlah tenaga kesehatan dan non kesehatan dapat di lihat pada grafik di bawah ini :
BAB V
PELAKSANAAN UKBM
(Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat)
5.1. Posyandu
Posyandu  adalah kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan : ”Pelayanan kesehatan terpadu (yandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas. Tempat pelaksanaan pelayanan program terpadu di balai dusun, balai kelurahan, RW, dan sebagainya disebut dengan Pos pelayanan terpadu (Posyandu)”. Konsep Posyandu berkaitan erat dengan keterpaduan. Keterpaduan yang dimaksud meliputi keterpaduan dalam aspek sasaran, aspek lokasi kegiatan, aspek petugas penyelenggara, aspek dana dan lain sebagainya. (Departemen kesehatan, 1987:10).
Gambaran Posyandu di Puskesmas Curug masih sangat minim aktifitasnya, ini dapat dilihat pada Grafik  berikut ini;

5.2. Poskesdes
Poskesdes  adalah  Upaya     Kesehatan   Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan  dasar   bagi masyarakat desa. UKBM yang sudah dikenal luas oleh masyarakat yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Warung Obat Desa, Pondok Persalinan Desa (Polindes), Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga dan lain-lain (Depkes, 2007).
Untuk dapat menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa, Poskesdes memiliki kegiatan:
  1. Pengamatan epidemiologi sederhana terhadap penyakit terutama penyakit menular yang berpotensi menimbulkan
  2. Kejadian Luar Biasa (KLB) dan faktor resikonya termasuk status gizi serta kesehatan ibu hamil yang beresiko.
  3. Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB serta faktor resikonya termasuk kurang gizi.
  4. Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdarutan kesehatan.
  5. Pelayanan medis dasar sesuai dengan kompetensinya.
  6. Promosi kesehatan untuk peningkatan keluarga sadar gizi, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penyehatan lingkungan dan lain-lain.
Di UPT Puskesmas Curug pengembangan Poskesdes baru berjalan namun geraknya terus ditingkatkan melalui sosialisasi oleh kader-kader Posyandu. Poskesdes yang ada baru dua Poskesdes dengan prasarana yang minim  yang menjadi kendalanya.
5.3. Poskestren
Kegiatan Poskestren adalah memberdayakan masyarakat pesantren baik santri/ti maupun guru agar mau dan mampu untuk hidup sehat. Konsep pemberdayaan masyarakat pesantren ini adalah memperkenalkan mereka  akan permasalahan yang mereka hadapi yang dilakukan oleh mereka sendiri.  Sehingga masalah yang ditemukan benar-benar dirasakan dan disepakati oleh  mereka.
Cikal bakal Poskestren di wilayah kerja Puskesmas Curug baru 1 buah, yaitu di desa Kamanisan.
5.4. Desa siaga
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah Desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) (Depkes, 2007).
Paparan kegiatan Desa Siaga pernah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Serang pada tahun 2010 lalu, namun kegiatan tersebut belum mengakar pada pribadi masyarakat setempat akibat terkendala berbagai hal yang menyangkut sarana dan prasarana serta kesadaran masyarakatnya yang belum maksimal.
Kriteria desa siaga meliputi :
1.      Adanya forum masyarakat desa
2.      Adanya pelayanan  kesehatan dasar
3.      Adanya UKBM Mandiri yang dibutuhkan masyarakat desa setempat
4.      Dibina Puskesmas Poned
5.      Memiliki system surveilans (faktor resiko dan penyakit) berbasis masyarakat.
6.      Memiliki system kewaspadaan dan kegawatdaruratan bencana berbasis masyarakat.
7.      Memiliki system pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat.
8.      Memiliki lingkungan yang sehat.
9.      Masyarakatnya ber perilaku hidup bersih dan sehat.
Tahapan desa siaga :
1.      Bina yaitu desa yang baru memiliki forum masyarakat desa, pelayanan kesehatan dasar, serta ada UKBM Mandiri.
2.      Tumbuh yaitu desa yang sudah lebih lengkap dengan criteria pada tahapan bina ditambah dengan dibina oeh puskesmas Poned, serta telah memiliki system surveilans yang berbasis masyarakat.
3.      Kembang yaitu desa dengan criteria tumbuh dan memiliki system kewaspadaan dan kegawatdaruratan bencana serta system pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat yang telah berjalan.
4.      Paripurna yaitu desa yang telah memiliki seluruh criteria desa siaga.
Dari kriteria diatas Desa Siaga diwilayah kerja UPT Puskesmas Curug masih dalam kategori Bina, dan menjadi Pekerjaan Rumah kami untuk terus meningkatkan vitalitas kegiatan Desa Siaga agar mampu mencapai tingkat yang lebih baik lagi.



BAB VI
PELAKSANAAN PROGRAM PHBS

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan, dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Dalam PHBS juga dilakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku melalui pendekatan pimpinan (advocacy), bina suasana (social support) dan pemberdayaan masyarakat (empowerment).
Rumah Tangga Sehat adalah rumah tangga yang melakukan 10 PHBS di Rumah Tangga yaitu :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2.   Memberi bayi ASI eksklusif
3.   Menimbang bayi dan balita
4.   Menggunakan air bersih
5.   Mencuci tangan dengan air bersih sabun
6.   Menggunakan jamban sehat
7.   Memberantas jentik di rumah
8.   Makan buah dan sayur setiap hari
9.   Melakukan aktivitas fisik setiap hari
10.  Tidak merokok di dalam rumah

PHBS  merupakan salah satu program prioritas pemerintah melalui puskesmas dan menjadi sasaran luaran dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan (Depkes RI, 2006). Wilayah kerja UPT Puskesmas Curug saat ini masih menghadapi permasalahan masih tingginya angka penyakit infeksi juga peningkatan penyakit degeneratif. Buruknya kondisi lingkungan serta belum baiknya perilaku hidup bersih dan  sehat di masyarakat diduga menjadi penyebab permasalahan tersebut. Implementasi program PHBS yang telah dicanangkan , masih menemui  banyak kendala.
Data PHBS UPT Puskesmas Curug, dapat dilihat dalam table berikut ini:

NO
KECAMATAN
PUSKESMAS
RUMAH TANGGA
JUMLAH DIPANTAU
BER PHBS *
%
1
2
3
4
5
6
1
CURUG
CURUG
88
72
81.8%
2
CURUG MANIS
92
31
33.7%
3
CIPETE
80
23
28.8%
4
SUKALAKSANA
83
49
59.0%
5
TIMGGAR
140
77
55.0%
6
PANCALAKSANA
93
40
43.0%
7
KAMANISAN
74
31
41.9%
8
SUKAWANA
20
11
55.0%
9
CILAKU
93
52
55.9%
10
SUKAJAYA
71
36
50.7%
JUMLAH (KEC)

834
422
50.6%



BAB VI
PENUTUP
Dengan telah disajikan Profil Kesehatan UPT Puskesmas Curug  tahun 2011(Data tahun 2011), diharapkan dapat memberikan gambaran secara garis besar dan menyeluruh tentang seberapa jauh perubahan dan perbaikan keadaan kesehatan di wilayah kerja UPT Puskesmas Curug  

Profil Kesehatan UPT Puskesmas Curug  merupakan salah satu publikasi data dan informasi yang meliputi capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan. Indikator Indonesia Sehat 2015 dan Curug Sehat 2015. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitas Profil Kesehatan UPT Puskesmas Curug  , perlu dicari terobosan dan mekanisme pengumpulan data dan informasi secara cepat untuk mengisi kekosongan data agar dapat tersedia data dan informasi berkualitas yang sangat diperlukan sebagai masukan dalam proses pengambilan keputusan.

Diharapkan Profil Kesehatan UPT Puskesmas Curug  2011 ini dapat bermanfaat dalam rangka penyusunan serta pengendalian program kesehatan dan menjadikan informasi yang penting dan dibutuhkan baik oleh jajaran kesehatan, lintas sektor maupun mayarakat.


Curug, 1 Februari 2012
Penyusun